• Home
  • Animasi/Galeri
  • Buku
  • Galeri
  • Gus Dur
  • I B M A
  • Kesehatan
  • Kontak
  • Kuliah
  • Musik
  • Pemberdayaan
  • Pengajian
  • Sorot
  • Mail
Alamat Lembaga Pendidikan
  • kb.tk.sd.sltp.slta.pt. kursus.pesantren
 
DIKLAT/SEMINAR
  • Teori PTK
  • Proposal PTK
  • Laporan PTK
KARYA TULIS
  • Karya Tulis Dosen
  • Karya Tulis Guru
  • Karya Tulis Siswa
  • Karya Tulis Mahasiswa
ARSIP DATA
  • Berita
  • Artikel
  • Lowongan
  • Infodiklat
  • Sponsor
  • Materi Pengelolaan Kelas
  • Beasiswa
  • Video
SPONSOR
  • Bank, Hotel, Tour/Travel
  • Wisata & Restoran
  • Otomotif & Kartu Perdana
  • Busana & Perhiasan
  • Properti & Elektronik
Statistik Counter
Anda Pengunjung ke:
405554
MITRA
  • B K K B N
  • Berita Antara
  • Buku SD/MI
  • Buku Sekolah Elektronik
  • BUKU SMA/MA
  • BUKU SMK
  • BUKU SMP/MTs
  • D I K T I
  • DEPSOS
  • DIKNAS
  • DP2M DIKTI
  • FKIP UNISMA
  • IklanGlobal
  • Propinsi Jatim
  • SOAL UNAS
  • Space 01 – available
  • Space 02 – available

Keutamaan Kompetensi dalam Era Globalisasi dan Implikasinya bagi Pendidikan Sekolah

Diposting oleh admin Tanggal: 5 July 2009 | Kategori: Artikel | dilihat 464 Kali |

Abstrak: Tulisan ini memaparkan kecenderungan-kecenderungan era globalisasi yang padat pengetahuan atau berbasis pengetahuan. Dalam era globalisasi berbasis pengetahuan, keberadaan dan peranan kompetensi sangat utama, penting, dan strategis; menggantikan utama dan pentingnya informasi atau materi. Untuk itu, setiap manusia harus menguasai sejumlah kompetensi sebagai standar minimal agar mampu berpikir dan bertindak dalam hidup dan kehidupan individual dan bersama. Pembentukan standar minimal kompetensi itu dapat dilakukan melalui pendidikan terutama pendidikan sekolah. Pada era globalisasi ini, proses pendidikan sekolah harus dipusatkan pada pembentukan kompetensi yang dibutuhkan oleh pembelajar guna mengarungi hidup dan kehidupan mereka. Sebab itu, perlu diwujudkan sekolah berorientasi kompetensi, kurikulum berbasis kompetensi, pembelajaran berfokus kompetensi, dan asesmen berbasis kompetensi. Ini menuntut dilakukannya reformasi dan rekonstruksi sekolah, kurikulum, dan pembelajaran serta penilaian sekalipun tanpa harus mengubah sistem pendidikan nasional.

Kata kunci: globalisasi, pengetahuan, kompetensi, kurikulum, dan pendidikan sekolah.

Dua kekuatan utama yang berjalin berkelindan sekarang sedang melanda dunia manusia termasuk manusia Indonesia, yaitu globalisasi dan pengetahuan. Tak dapat disangkal, globalisasi yang dilandasi dan diprasyarati oleh pengetahuan telah menjadi kenyataan empiris-sosiologis bagi semua wilayah di dunia, tak terkecuali Indonesia. Globalisasi berbasis pengetahuan itu telah menimbulkan sejumlah kecenderungan utama yang harus ditanggapi oleh setiap individu, masyarakat, dan bangsa termasuk berbagai negara. Guna menanggapi dan mengelola berbagai kecenderungan utama itu, keberadaan, kedudukan, fungsi, dan peranan kompetensi demikian utama, penting, dan strategis. Karena itu, setiap individu, masyarakat, dan bangsa perlu memiliki atau menguasai standar minimal kompetensi yang secara efektif diharapkan dapat digunakan untuk menanggapi dan mengelola kecenderungan utama globalisasi. Dalam rangka pengasaan standar minimal kompetensi itu, jelaslah pendidikan sekolah berfungsi dan berperan sangat strategis selain ikut bertanggung jawab. Dimaksudkan untuk memberikan gambaran ringkas ihwal hal tersebut, secara konseptual tulisan ini mencoba memaparkan ihwal (1) kecenderungan-kecenderungan dalam era globalisasi, (2) keutamaan kompetensi, dan (3) tugas dan tanggung jawab pendidikan sekolah.

KECENDERUNGAN DALAM ERA GLOBALISASI

Puluhan tahun lalu, para pakar sudah memaklumkan datangnya era globalisasi yang membuat dunia menjadi sebuah dusun global (global village) karena antar bagian-bagian dunia ini, baik pelosok terpencil maupun perkotaan sudah saling berhubungan dan berkaitan. Pada awal abad XXI sekarang, era globalisasi sudah menjadi kenyataan tak terbantahkan. Era globalisasi ini disertai dengan makin penting dan strateginya pengetahuan. Drucker (1999) dan Stewart (1997) telah mencatat bahwa pada masa sekarang dan lebih-lebih pada masa depan keberadaan, kedudukan, dan peranan pengetahuan sangat vital, strategis, dan utama. Masa depan manusia dikendalikan, malah ditentukan oleh pengetahuan sehingga dunia bergantung pada sekaligus berpilar pengetahuan.

Oleh karena itu, masa depan manusia pada abad XXI merupakan abad pengetahuan yang mempersyaratkan kemampuan tertentu yang canggih. Pada abad pengetahuan, semua hal akan bertumpu dan mempersyaratkan pengetahuan: ekonomi berbasis pengetahuan, pemerintah berbasis pengetahuan, pekerja berpengetahuan, dan masyarakat pun berpengetahuan. Implikasinya, modal pengetahuan menjadi sangat penting, aset paling berharga, dan sekaligus dibutuhkan oleh semua orang selain modal alam dan modal sosial. Tanpa modal pengetahuan, orang akan terpinggirkan dan menjadi pecundang. Dengan modal pengetahuan yang baik, orang akan banyak berkiprah dan menjadi pemenang dalam berbagai aktivitas kehidupan. Ini menunjukkan bahwa brainware sangat strategis dibandingkan hardware dan software. Pertanyaan kita sekarang adalah: modal pengetahuan apakah yang sesuai (cocok) dengan dan dibutuhkan pada masa depan? Jawaban pertanyaan ini dapat diketahui dengan melihat kecenderungan-kecenderungan pada masa depan.

Dalam konteks terbentuknya abad pengetahuan, Dryden dan Vos (1999) melihat ada 16 kecenderungan utama yang akan membentuk masa depan kita. Kecenderungan yang dimaksud adalah (a) berkembangnya komunikasi serba instan, (b) timbulnya dunia tanpa batas-batas ekonomi, (c) terjadinya empat lompatan besar menuju ekonomi dunia tunggal [menyatu], (d) berkembangnya perdagangan dan pembelajaran melalui internet, (e) berkembangnya masyarakat layanan baru, (f) terjadinya penyatuan antara yang besar [global] dan yang kecil [lokal], (g) makin kuatnya era baru kesenangan dan kegembiraan, (h) terjadinya perubahan bentuk kerja secara mendasar, (i) makin tampilnya perempuan sebagai pemimpin, (j) makin banyaknya penemuan terbaru tentang otak yang sangat mengagumkan, (k) menguatnya nasionalisme budaya, (l) adanya kelas bawah yang makin besar, (m) semakin besarnya jumlah manula atau lansia, (n) terjadinya ledakan praktik-mandiri-otonom, (o) berkembangnya perusahaan kooperatif, dan (p) bangkitnya kekuatan dan tanggung jawab individu (kemenangan individu). Kecenderungan ini dapat ditambah pula dengan kecenderungan makin pudarnya pamor dan kejayaan kecerdasan kognitif (IQ) pada satu pihak dan pada pihak lain makin berkibarnya pamor dan kejayaan kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ), kecerdasan adversitas (AQ), kecerdasan majemuk (MI), dan atau kecerdasan emosional-spiritual (ESQ). Sesungguhnya berbagai kecenderungan utama tersebut sudah tampak kuat gejalanya sekarang. Sementara itu, pada sisi lain sekarang kita melihat masa depan manusia makin dilanda sekaligus dibekap atau digenggam oleh globalisasi yang makin bertubi-tubi.

Anthony Giddens menengarai bahwa globalisasi ini telah membawa dunia dan masa depan manusia berlari kencang tunggang langgang, lepas kendali alias senantiasa merucut. Manusia diberbagai belahan dunia kini berada dalam runaway world, kata Giddens. Di sini manusia termasuk bangsa di Indonesia akan dihadapkan pada empat kenyataan atau kecenderungan pokok dalam kehidupan sehari-hari mereka, yaitu (a) kecepatan perubahan yang demikian dahsyat dan susah diperkirakan jalan, proses, dan dampaknya termasuk kecepatan perubahan informasi dan isi pengatahuan, (b) kebaruan segala sesuatu yang berlangsung sedemikian cepat dan kilat [termasuk kebaruan informasi dan isi pengetahuan], (c) keusangan segala sesuatu yang sedemikian cepat dan kuat [termasuk keusangan informasi dan isi pengetahuan], dan (d) kesesaatan segala sesuatu dalam kehidupan manusia sehari-hari [termasuk kesesaatan informasi dan isi pengetahuan]. Kecendrungan ini jelas merombak kehidupan secara mendasar pada masa sekarang, lebih-lebih pada masa depan. Jika memiliki kemampuan memadai, maka manusia akan dapat mengurangi globalisasi dengan baik jika tidak memiliki kemampuan yang tidak memadai, maka manusia akan terserang gegar budaya dan atau gegar masa depan (future shock). Selain itu harus disadari bahwa globalisasi telah menyorongkan masa dunia manusia yang mungkin kecil, lokal, dan terbatas ke dalam sistem-sistem dunia yang besar dan tidak terbatas. Karena globalisasi yang mengandalkan integrasi dan jaringan sistem memang benar-benar memadatkan dunia ke dalam satu ruang tunggal dan mengintensifkan kesadaran dunia sebagai kesatuan. Siapapun dituntut sadar dan ikhlas memasuki berbagai jaringan sistem dunia, misalnya jaringan sistem budaya, sistem ekonomi, sistem bisnis-moneter atau sistem pasar, sistem politik, sistem komunikasi dan transportasi, dan sistem pengetahuan. Kecuali itu, siapa pun dituntut lapang dada menerima kenyataan pudarnya berbagai sistem lokal dan nasional, misalnya sistem negara-bangsa dan kedaulatan politik dan ekonomi suatu bangsa. Hal ini mengakibatkan (a) hal-hal pribadi dan lokal dapat menjadi urusan umum dan global dan (b) hal-hal umum dan global juga menjadi urusan pribadi dan lokal. Sebagai contoh, soal orang tua mencubit anak sendiri bisa menjadi urusan global [karena dianggap pelanggaran hak anak] dan sebaliknya soal gaya makan di Mc. Donalds menjadi urusan lokal [karena dianggap bagian dari gaya hidup siapa saja]. Ini menunjukkan bahwa globalisasi demikian rumit dalam kenyataan hidup sehari-hari manusia termasuk di Indonesia.

Keutamaan [Sentralitas] Kompetensi Paparan tersebut di atas mengimplikasikan lima hal pokok berikut.

Pertama, dunia kehidupan sangat terbuka dan membentuk jaringan-jaringan kerja sedemikian kompleks dalam sistem dunia. Ini membuat seseorang tidak cukup hanya berkompetisi (bersaing), tetapi juga perlu berkooperasi dan bersinergi (bekerja satu sama lain). Dengan kata lain, dituntut untuk mampu berkompetisi atau bersaing sekaligus bersanding atau berteman. Hal ini mengharuskan seseorang memiliki keunggulan kompetitif sekaligus kemampuan bersanding atau bekerja sama. Konsekuensi logisnya, kompetensi-kompetensi baru abad pengetahuan perlu dikuasai. Selain itu, pola hubungan-hubungan lama menjadi usang sehingga perlu diganti dengan pola hubungan-hubungan baru. Ini semua perlu diantisipasi.

Kedua, mutu kompetensi yang berisi pengetahuan, kecakapan hidup, keyakinan dan nilai menjadi sangat penting dan utama dalam era globalisasi yang hanya salah satu kecenderungan era sekarang dan masa depan. Tanpa kompetensi tertentu yang tinggi dan memadai bagi kehidupan global niscaya seseorang akan menjadi pecundang. Jumlah dan banyaknya informasi dan materi yang dimiliki oleh seseorang tidak memadai lagi untuk dapat berkiprah dalam kehidupan global (sistem dunia) yang telah bersimbiose atau bersinergi dengan kecenderungan lain. Informasi dan materi tidak banyak berguna kalau manusia tidak mampu manganalisis, mengolah, memaknai, memberi arti, dan memberi konteks sehingga menjadi sehimpunan pengetahuan, kecakapan, keyakinan, dan nilai. Ini menunjukkan bahwa informasi dan materi hanya bahan dasar bagi kompetensi, sedang kompetensi merupakan wujud dan hasil daya manusia “menggarap” informasi dan materi. Setiap orang dituntut memiliki daya membentuk kompetensi tersebut! Dengan daya membentuk kompetensi itulah manusia dapat eksis dengan baik dalam era globalisasi. Dalam era globalisasi ini, sekarang memang sudah diambang pintu besar bernama era kompetensi, dan meninggalkan rumah besar bernama era reformasi.

Ketiga, kompetensi holistis, utuh, dan general atau lintas-disipliner dibutuhkan atau diutamakan untuk sukses berkiprah dalam kegiatan dan kehidupan global karena terdapat kecenderungan konvergensi berbagai bidang kehidupan sehari-hari dan ilmiah. Kompetensi fragmentatif, terpisah-pisah, dan spesialistis tidak memadai dan andal lagi untuk bekal berkiprah dalam kegiatan dan kehiduapan global yang berlari tunggang langgang. Tak heran, Kiyosaki (2002) berseru: Jadilah generalis kalau ingin sukses, jangan hanya jadi spesialis! Ini pernyataan keras atau radikal. Kalau dilunakkan mungkin pernyataannya bisa begini: Jadilah orang yang berkembang minat dan keahliannya, jangan hanya “itu-itu melulu” karena dunia terus berubah dengan sangat cepat!. Ini menuntut setiap orang untuk terus menerus dan berkelanjutan merencanakan dan merencanakan ulang minat, karir, profesi, dan kompetensi. Orang yang tidak mau berpikir ulang dan merencanakan ulang apa yang akan dijalaninya akan menjadi “penonton pasif” dari dunia yang kencang berlari. Mengutip judul sebuah novel dan film: orang tersebut bakal selalu ketinggalan kereta! Jadi, persyaratan kompetensi senantiasa berubah sehingga orang harus selalu memperbaharui kompetensinya.

Keempat, sebagai konsekuensi logis implikasi tiga, belajar secara berkelanjutan, terus menerus, dan sepanjang hayat sangat diperlukan sehingga kemampuan belajar menjadi conditio sine qua non dalam diri setiap orang. Setiap orang harus menjadi manusia pembelajar agar kompetensi yang dimiliki tetap mutakhir, cocok, fungsional, dan aktual dengan kebutuhan dan aktivitas kehidupan sehari-hari. Demikian juga setiap lembaga, baik lembaga bisnis, lembaga keluarga, lembaga sosial maupun lembaga-lembaga lain harus menjadi organisasi pembelajaran sehingga lembaga-lembaga tersebut tetap dapat bertahan dan berfungsi dengan baik. Dengan demikian, diharapkan keusangan sekaligus ketakcocokan kompetensi dapat dihindarkan pada satu sisi dan pada sisi lain kebaruan sekaligus kemutakhiran kompetensi dapat diraih dan dikembangkan. Sekarang semangat dan tekad menjadi manusia pembelajar(an) dan organisasi pembelajaran harus dipacu lebih keras lagi kompetensi yang mutakhir, baru, cocok, dan fungsional dimiliki oleh setiap orang dan organisasi sehingga mereka mampu eksis di tengah kecamuk perubahan yang tidak beraturan (turbulensi perubahan).

Kelima, sekarang kompetensi-kompetensi baru dibutuhkan oleh setiap orang dan organisasi di Indonesia karena kini sedang terjadi berbagai perubahan secara mendasar dan besar-besaran di Indonesia dan di dunia. Perubahan yang secara mendasar besar-besaran di Indonesia dan di dunia. Perubahan yang dimaksud antara lain (i) peruabahan jenis dan sifat pekerjaan, (ii) perubahan ekonomi-bisnis-moneter, (iii) perubahan sosial budaya, (iv) perubahan sosial pilitik, dan (v) perubahan ekonomi dan transportasi selain (vi) perubahan ekologis dan klimatologis dan (vii) peruabahan pola-pola hubungan dan komunikasi. Sebagai contoh, dalam bidang sosial politik terjadi perubahan berupa makin melemahnya peranan negara dalam satu sisi dan makin menguatnya masyarakat sipil pada sisi lain. Demikian juga di bidang ekonomi sedang terjadi perubahan berupa makin kuatnya sektor swasta pada satu sisi dan pada sisi lain makin menurunya peran negara. Selanjutnya, di bidang hubungan dan komunikasi sekarang terjadi perubahan ke arah hubungan dan komunikasi berbentuk jaringan, bukan lagi sekuensial. Ini semua membuat setiap orang dan organisasi tidak bisa lagi bergantung pada peran negara (misalnya: berkarir menjadi pegawai negeri), melainkan mereka harus bergantung pada peran sektor swasta (misalnya: berkarir menjadi pekerja independen). Dalam cashflow quadrant, Kiyosaki (2000) sampai-sampai menyebut karir sebagai pegawai negeri (employee) tidak berpeluang maju, kurang sejahtera, dan merupakan pilihan terburuk dibandingkan karir sebagai pekerja mandiri atau profesional (self-employed), wirausaha mandiri (bussiness owner), dan investor. Ini mengimplikasikan, berbagai kompetensi baru dibutuhkan dan perlu dikuasai oleh banyak orang dan organisasi agar mampu merespon, mengantisipasi, dan menindak lanjuti perubahan yang terjadi. Paparan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan kompetensi sangat utama atau sentral pada era globalisasi dan abad pengetahuan. Tegasnya, dalam era globalisasi berbasis pengetahuan, kompetensi lebih utama dan penting dari pada materi atau informasi. Dikatakan demikian karena kompetensi disini merupakan paduan dan keutuhan antara pengetahuan, kecakapan, keyakinan. Dan nilai-nilai fungsional untuk berpikir, bernalar, bertindak, dan berbuat dalam hidup dan kehidupan sehari-hari secara luas yang “bahan dasar”nya informasi atau materi. Keutamaan atau sentralitas kompetensi tersebut membuat semua orang mengubah orientasi hidup, yaitu dari mengandalkan meteri dan isi informasi ke arah mengandalkan kompetensi. Agar mampu hidup dengan baik, bermakna, dan mulia pada era globalisasi, setiap oarang perlu memiliki standar minimal kompetensi. Pertanyaan kita bagaimanakah standar (minimal) kompetensi yang dibutuhkan pada era globalisasi tersebut? Hal ini sesungguhnya susah dijawab karena perlu dilakukan kajian komprehensif dan empiris. Bahkan idealnya perlu dilaksanakan kajian kebutuhan (need assesment) masyarakat akan kompetensi yang secara minimal perlu dikuasai. Namun, sebagai kira-kira dapat dikemukakan di sini bahwa standar minimal kompetensi pada era globalisasi terdiri atas (1) kompetensi intelektual, (2) kompetensi [intra] personal, (3) kompetensi komunikatif, (4) kompetensi sosial-budaya, (5) kompetensi kinestetis-vokasional, dan (6) kompetensi hidup secara multi kultural.

  1. Kompetensi intelektual antara lain berupa kemampuan berpikir dan bernalar, kemampuan kreatif dan inovatif (memperbaharui, meneliti, dan menemukan), kemampuan memecahkan masalah, dan kemampuan mengambil keputusan strategis yang mendukung kehidupan global.
  2. Kompetensi (intra) personal atara lain berupa kemandirian, ketahan bantingan, keindependenan, kreativitas dan produktivitas, kejujuran, keberanian, keadilan, keterbukaan, mengelola diri sendiri, dan menempatkat diri sendiri secara bermakna serta orientasi pada keunggulan yang sesuai dengan kehidupan global.
  3. Kompetensi komunikatif antara lain berupa kemahir wacanaan, kemampuan sarana komunikasi mutahir, kemampuan menguasai suatu bahasa, kemampuan bekerja sama, dan kemampuan membangun hubungan-hubungan dengan pihak lain yang mendukung kehidupan global dalam satu sistem dunia.
  4. Kompetensi sosial-budaya antara lain berupa kemampuan hidup bersama orang lain, kemampuan memahami dan menyelami keberadaan orang / pihak lain, kemampuan dan memahami kebiasaan orang lain, kemampuan berhubungan atau berinteraksi dengan pihak lain, dan kemampuan bekerja sama secara multikultural.
  5. Kompetensi kinestetis-vokasional antara lain berupa kecakapan mengoperasihkan sarana-sarana komunikasi mutahir, kecakapan melakukan pekerjaan mutahir, dan kecakapan menggunakan alat-alat mutahir yang mendukung suksesnya berkiprah di dunia global.
  6. Kompetensi hidup bersama secara multikultural antara lain berupa kemampuan bermasyarakat secara mulitikultural, kecakapan bekerja secara multikultural, kecakapan bertingkah laku secara multikultural, dan kemahiran bersopan santun lintas kultural serta menyesuaikan di tempat-tempat yang berbeda.

Tugas Dan Tanggung Jawab Pendidikan Sekolah Pendidikan sekolah, keluarga, dan perusahaan memiliki tugas, fungsi, dan tanggung jawab utama dalam membentuk dan menguatkan kompetensi-kompetensi tersebut. Dalam hubungan ini keberadaan, kedudukan, dan fungsi pendidikan sekolah sangat strategis dan utama dibandingkan pendidikan keluarga dan perusahaan. Ini berarti, lembaga-lembaga pendidikan sekolah bertugas dan bertanggung jawab utama dalam melaksanakan pembentukan kompetensi-kompetensi tersebut, bukan melakukan penerusan materi. Semua lembaga pendidikan sekolah seyogyanya sadar akan tugas dan tanggung jawab pembentukan kompetensi. Sudah bukan masanya lagi lembaga pendidikan sekolah hanya melakukan penerusan materi. Sekolah yang semata-mata berorientasi pada penerusan materi adalah sekolah yang ketinggalan zaman, sebaliknya sekolah yang berwawasan dan berorientasi pada pembentukan kompetensi adalah sekolah yang akan eksis dan relevan bagi masa depan. Atau aspek yang terkait dengan pembelajaran. Untuk itu, perlu dikembangkan kurikulum berbasis kompetensi yang kemudian ditopang oleh pembelajaran berbasis kompetensi dan asesmen berbasis kompetensi. Dalam hubungan ini pendidikan (pembelajaran) sekolah memiliki tempat dan peranan strategis dan taktis untuk mengembangkan sekaligus melaksanakan kurikulum berbasis kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi dan asesmen berbasis kompetensi. Struktur program, sistematika program, isi program, dan materi program dalam kurikulum berbasis kompetensi perlu lentur, berarti, dan cocok dengan kebutuhan kehidupan globalisasi selanjutnya, pembelajaran berbasis kompetensi perlu berlangsung secara nyaman, menyenangkan, multisensori, kompetensi masing-masing orang dapat berbentuk dan berkembang optimal. Adapun asesmen berbasis kompetensi perlu dilakukan secara otentik, beragam, dan komprehensif; tidak terbatas tes di dalam kelas saja, tetapi bisa tugas-tugas dan aktivitas-aktivitas lain di luar kelas.

Penutup Seluruh uraian di atas mengisyaratkan bahwa kompetensi harus dikuasai oleh tiap-tiap individu, masyarakat, dan bangsa agar mampu hidup, berkiprah, dan bertindak sebaik-baiknya dalam era globalisasi berbasis pengetahuan. Penguasaan kompetensi yang dibutuhkan dalam era globalisasi tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan sekolah, masyarakat, dan keluarga. Dalam hubungan ini, pendidikan sekolah memiliki tugas dan tanggung jawab besar dalam membentuk kompetensi yang dibutuhkan. Hal ini menuntut adanya reformasi dan rekonstruksi sekolah, kurikulum, pembelajaran, dan penilaian. Reformasi dan rekonstruksi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu (1) dengan merombak sistem pendidikan yang ada, dan (2) dengan tanpa merombak sistem pendidikan yang telah ada. Cara pertama membutuhkan ongkos intelektual, sosial pedagogis, dan finansial yang relatif besar. Sedangkan cara yang kedua lebih menghemat ongkos intelektual, sosial, pedagogis, dan finansial. Adapun cara yang akan ditempuh, reformasi dan rekonstruksi tersebut membutuhkan uluran tangan dan sekaligus partisipasi proaktif jajaran birokrasi pendidikan, tenaga kependidikan, dan pakar-pakar pendidikan, bahkan juga berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Dryden, G. Dan Jeanette, 2001. Revolusi Cara Belajar. Suntingan Ahmad Baiquni. Bandung: Penerbit KAIFA.
Drucker, P. 1999. New Realities. Jakarta: Penerbit Elex Komputindo.
Kiyosaki, R. T. 2000. Cashflow Quadrant. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.
Kiyosaki. R. T. 2000. Rich Kid, Smart Kid: Memberi Anak Anda Start Awal Meraih Kebebasan Finansial. Jakarta: Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Penulis DJOKO SARYONO, Staf Pengajar Fakultas Sastra dan Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang (UNM).

Sumber
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, Nomer/Tahun : 1/17, Februari 2004, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (UNISMA).

Kontributor

M. Anas Mahmudi, Jurusan Bahasa Inggris, Fkip Universitas Islam Malang (UNISMA).

Digg this post Bookmark to delicious Stumble the post Add to your technorati favourite Subscribes to this post
« Paradigma Baru Pendidikan Islam [Sebuah Upaya Menuju Pendidikan yang Memberdayakan]
Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar Mengajar »
Copyright © 2008. infodiknas.com. Kontak info Rulam Ahmadi (rulamahmadi@infodiknas.com)
Themes Designed by: Elegant WP Themes | Supplied by Web Hosting | ReEdit for Infodiknas.com by Tricks-Collections.Com