• Home
  • al-Islam
  • Kesehatan
  • Kontak
  • Kuliah Rulam
  • Mau Kirim Karya Tulis?
  • Mail
Alamat Lembaga Pendidikan
  • kb.tk.sd.sltp.slta.pt.kursus. pesantren
 
DIKLAT & PENELITIAN
  • Infodiklat
  • Diklat Online
  • Metodologi Penelitian
  • Materi PTK
  • Proposal PTK
  • Laporan PTK
  • Penelitian Tindakan Sekolah
  • Materi Pengelolaan Kelas
  • Bimbingan Belajar
  • Kursus
KARYA TULIS
  • Cara Kirim Karya Tulis
  • Bacaan Anak Indonesia
  • Karya Siswa & Guru
  • Karya Mahasiswa & Dosen
  • Skripsi
  • Tesis
  • Disertasi
  • Cerita Pendek
  • Cerita Bersambung
  • Puisi
  • Makalah Akhwal Syahsiah
  • Makalah Administrasi
  • Makalah Bahasa Arab
  • Makalah Bahasa Indonesia
  • Makalah Bahasa Inggris
  • Makalah Bimbingan&Konseling
  • Makalah Biologi
  • Makalah Ekonomi
  • Makalah Farmasi
  • Makalah Filsafat
  • Makalah Fisika
  • Makalah Fisipol
  • Makalah Hadist
  • Makalah Hukum
  • Makalah Kimia
  • Makalah Komunikasi
  • Makalah Kebidanan
  • Makalah Kedokteran
  • Makalah Kesehatan
  • Makalah MIPA
  • Makalah Pendidikan Islam
  • Makalah Pertanian
  • Makalah Pendidikan Nonformal
  • Makalah Profesi Keguruan
  • Makalah Psikologi
  • Makalah Quran
  • Makalah Teknik
  • Makalah Tekn. Pembelajaran
ARSIP DATA
  • Regional
  • Nasional
  • International (English)
  • Beasiswa
  • Video
  • Artikel
  • Direktori Doktor
  • Direktori Guru Besar
  • Dosen dan Matakuliah
  • Dunia Unik
  • Guru dan Matapelajaran
  • Gus Dur
  • Humor
  • Info Pendidikan Jatim
  • Iptek
  • Kajian Islam
  • Kemiskinan/Poverty
  • Lowongan
  • Makam
  • Masalah Pendidikan
  • Masjid
  • Olimpiade/Lomba
  • Opini
  • Pariwisata/Liburan
  • Pemberdayaan
  • Pengumuman
  • Prestasi
  • Seminar/Simposium
  • Wirausaha
INFO PENDIDIKAN JATIM
  • Info Pendidikan Probolinggo
  • Info Pendidikan Madura
  • Info Pendidikan Surabaya
  • Info Pendidikan Batu
  • Info Pendidikan Malang
STATISTIK COUNTER
INFO PENDIDIKAN DAERAH
  • Info Pendidikan Aceh
  • Info Pendidikan Bali
  • Info Pendidikan Bandung
  • Info Pendidikan Bekasi
  • Info Pendidikan Bogor
  • Info Pendidikan Jakarta
  • Info Pendidikan Kalimantan
  • Info Pendidikan NTB
  • Info Pendidikan NTT
  • Info Pendidikan Solo
  • Info Pendidikan Sulawesi
  • Info Pendidikan Sumatera
  • Info Pendidikan Tangerang
  • Info Pendidikan Yogyakarta
  • No. Pokok Sekolah Nasional

Alih Kode yang Terjadi pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping

Diposting oleh rulam Tanggal: 16 July 2009 | Kategori: Karya Mahasiswa & Dosen | 0 views |

Budi Santoso (Mahasiswa FKIP UNISMA Malang)

Abstrak: kajian sosioliguistik ikhwal pekodean ternyata masih langka. Penulisan artikel ini berfokus pada salah satu aspek dari masalah perkodean yakni “Alih Kode yang Terjadi Pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping”. Kajian ini meliputi: (1) bagaimanakah wujud kode dalam wacana jual beli peralatan camping, (2) bagaimanakah alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping dan (3) apa yang menjadi penyebab alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping. Adapun tujuan khusus analisis ini untuk memperoleh diskripsi objektif tentang: (1) kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop, (2) kecenderungan alih kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop dan (3) unsur penentu alih kode yang terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop. Instrumen yang dipakai sebagai sumber data yaitu penutur penjual dan pembeli dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop. Hal ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif.

Kata Kunci: bilingual, alih kode

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kajian sosiolinguistik ihwal perkodean ternyata masih langka (Rahardi, 2001:1). Kelangkaan kajian yang demikian mendorong penulis untuk berkecimplung di dalam bidang linguistik, khususnya sosiolinguistik untuk memberikan tanggapan nyata lewat analisis kajian. Analis kajian ini dapat dianggap upaya menanggapi kelangkaan kajian tentang perkodean tersebut.

Tidak dipungkiri bahwa hal perkodean adalah masalah yang penting untuk diteliti dalam linguistik. Hal demikian disebabkan oleh kenyataan bahwa ihwal kode itu sulit dan rumit untuk dicermati. Dikatakan rumit karena ihwal kode itu berkaitan erat dengan konteks situasi, yakni suasana yang mewadahi kode itu sendiri. Suasana yang simaksud mencakup dua hal yaitu seting sosial dan seting kultural (Rahardi, 2001:2).

Dengan perkataan lain apabila orang sudah menjadi individu yang bilingual tentu kode-kode yang dimilikinya akan menjadi semakin rumit. Namun, pasti semakin menarik pula untuk digambarkan dan dijelaskan. Berangkat dari gambaran kenyataan itu dapat ditegaskan bahwa ihwal kode itu perlu segara diteliti, dikaji dan diperikan secara mendalam.

Kajian perkodean sebanarnya dapat meliputi berbagai hal, seperti campur kode, interferensi dan integrasi, alih kode dan sebagainya (Suwito, 1983:67-81). Analisis kalian ini berfokus pada salah satu aspek dari beberapa masalah perkodean yang disebutkan di atas, yakni alih kode yang terjadi pada masyarakat bilingual di wilayah kota Malang. Adapun aspek alih kode adalah yang terjadi dalam wacana jual beli peratan camping.

Orang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut juga dwibahasawan) sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas (dalam bahasa Indonesia disebut kedwibahasawan). Selain istilah bilingualisme dengan segala jabarannya ada juga istilah multilingualisme (dalam bahasa Indonesia disebut juga keanekabahasawan) yaitu keadaan digunakannya lebih dari dua bahasa  oleh seeorang dalam pergaualannya dengan orang lain secara bergantian dalam penulisan ini tentang multilingualisme tidak akan dibicarakan secara khusus sebab modelnya sama dengan bilingualisme.

Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur lain, entah karena letaknya yang jauh terpencil atau karena sengaja tidak mau berhubungan dengan masyarakat tutur lain maka masyarakat tutur itu akan menjadi masyarakat atutur yang statis dan tetap menjadi masyarakat tutur yang monolingual (Chaer dan Leonie, 1995:111). Sebaliknya, masyarakat tutur yang terbuka artinya yang mempunyai hubungan dengan masyarakat tutur lain, tentu apa yang  mengalami apa yang disebut kontak bahasa dengan segala peristiwa-peristiwa kebahasaan sebagai akibatnya. Peristiwa-peristiwa kebahasaan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya kontak bahasa itu adalah apa yang ada di dalam sosiolinguistik disebut bilingualisme, diglosia, alih kode, campur kode, interferensi, integrasi, konvergensi dan pergeseran bahasa. Dalam penulisan ini hanya akan membahas tentang bilingualisme, alih kode dan campur kode yang merupakan kerangka teori dari penelitian yang berjudul “Alih Kode yang Terjadi pada Masyrakat Tutur Bilingual dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping”.

Soewito membedakan adanya dua macam alih kode yaitu alih kode intern dan alih kode ekstrn, yang dimaksud alih kode intrn adalah alih kode yang berlangsung antarbahasa sendiri seperti dari bahasa Indonesia (BI) ke bahasa Jawa (BJ) atau sebaliknya. Sedangkan alih kode ekstern terjadi antara bahasa sendiri dengan bahasa asing (BA).

Rumusan Masalah

Wilayah kota Malang dapat dikatakan sebagai pusat berbagai kegiatan ekonomi, sosial, pendidikan dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. Keadaan yang demikian sudah barang tentu akan membuat masyarakat Malang bersifat majemuk. Kemajemukan itu semakin dipacu dan ditopang oleh kenyataan selalu bertemu dan berinteraksinya warga masyarakat itu dengan warga dari masyarakat lain dalam wahana kegiatan.

Dalam bidang bahasa, kenyataan itu membawa akibat semakin bervareasinya kode-kode yang dimiliki dan dikuasai oleh angggota masyarakat itu. Masalah dalam kajian ini  pada intinya hanyalah difokuskan pada satu macam gejala bahasa saja yakni  alih kode yang meliputi: (1) bagaimanakah kode yang dipakai oleh masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang dalam peristiwa jual beli peralatan camping, (2) bagaimanakah kecenderungan pola alih kode yang terjadi pada wacana jual beli peralatan camping dalam masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shhop Malang dan (3) apakah faktor-faktor penentu terjadinya alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping dalam masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang.

Tujuan Penulisan

Penulisan ini berusaha untuk mendapatkan gambaran mengenai: (1) kode yang dipakai dalam wacana jual beli peralatan camping oleh masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang (2) pola kecenderungan campur kode dan alih kode yanga terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping pada masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang dan (3) unsur penentu alih kode yang terjadi dalam wacana jual beli peralatan camping pada masyarakat tutur bilingual di ruko Adventure Shop Malang.

PEMBAHASAN

Pemilihan Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping

Istilah bilingualisme (Inggris: bilingualism) dalam bahasa Indonesia disebut juga kedwibahasaan. Dari istilahnya secara harfiah sudah dapat dipahami apa yang dimaksud dengan bilingualisme itu, yaitu berkenaan dengan penggunaan dan bahasa atau dua kode bahasa. Secara sosiolingustik secara umum bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain secara bergantian (Mackey 1962:12, Fishan 1975:73). Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2).

Bloomfield dalam bukunya yang terkenal Language (1933:56) mengatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan seorang penutur untuk menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya. Jadi, menurut Bloomfield ini seseorang disebut bilingual apabila dapat menggunakan B1 dan B2 dengan derajat yang sama baiknya. Namun, Menurut Hugen selanjutnya seorang bilingual tidak perlu secara aktif menggunakan kedua bahasa itu tetapi cukup kalau bisa memahaminya saja. Haugen juga mengatakan mempelajari bahasa kedua, apalagi bahasa asing, tidak akan sendirinya akan memberi pengaruh terhadap bahasa aslinya. Lagi pula seorang yang mempelajari BA maka kemampuan BA-nya atau B2-nya  akan selalu berada pada posisi di bawah penutur asli bahasa.

Kode BI

BI sebagai bahasa nasional ternyata dapat digunakan hampir dalam segala bidang kegiatan di negara ini. Dalam peristiwa jual beli peralatan camping pun BI cukup dominan digunakan. Pada masyrakat tutur diwilayah kota Malang, penggunaan BI dalam dalam peristiwa jual beli itu kebanyakan digunakan apabila peserta tutur tidak bersuku Jawa. Dapat pula terjadi bahwa hanya salah satu dari peserta itu sajalah yang bukan berasal dari suku Jawa. Sepertinya dari pada mereka kesulitan menggunakan BJ, maka mereka cenderung menggunakan BI.

Cuplikan percakapan berikut dapat diguanakan sebagai contoh adanya penggunaan kode yang  berwujud BI dalam peristiwa jual beli peralatan camping

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Tas ini kena berapa mas?

Dua ratus dua puluh ribu, itu ada tempat laptope juga lo mas

Mau liat yang ini

O… yang itu. Yang itu sama dengan yang ini.

Ada diskone ya mas?

Sepuluh persen untuk semua merk tas

Ya udah yang ini aja. Jadi kena berapa?

Seratus delapan puluh lima diskon sepuluh persen jadinya seratus enam puluh enam ribu, ya udah seratus enam puluh enam lima saja.

Ini mas uangnya

(memberikan kembaliannya)

kembali taga puluh lima ribu. Trim ya

Dari cuplikan di atas dapat dilihat bahwa BI yang digunakan dalam translaksi jual beli peralatan camping itu biasanya bersifat tidak formal. Ketidakformalan itu misalnya dapat diidentifikasi dari banyak digunakan model tuturan ringkas (restricted codes) yang ditandai oleh banyakanya penanggalan-penanggalan dari bagian tuturan tertentu.

Di samping banyak digunakan tutur ringkas ternyata juga ditemukan banyak bagian-bagian dari tuturan yang dipengaruhi oleh bahasa daerah tertentu.  Tuturan yang berbunyi  laptope dan diskone tampak sekali mendapatkan pengaruh dari BJ, yakni –e menyertai kata sehingga menjadi laptope dan diskone.

Pengaruh bahasa daerah terhadap bahasa Indonesia juga dapat ditemukan dengan munculnya kata liat, udah maupun aja dan sebagainya. Contoh-contoh yang terakhir ini sepertinya merupakan pengaruh dari dialek Jakarta. Munculnya pengaruh dialek Jakarta dalam jual beli peralatan camping ini cukup wajar karena memang wibawa wilayah Jakarta sebagai pusat segala kegiatan cukup dapat dirasakan hampir seluruh warga masyarakat Indonesia. Akibatnya dalam wacana jual beli peralatan camping di ruko Adventure Shop pengaruh ini pun dapat ditemukan.

Kode BJ

Dari sejumlah peristiwa tutur yang berhasil dijangkau dalam analisis ini,     dapat dikatakan bahwa penggunaan kode dalam BJ sangat dominan. Hal demikian barangkali disebabkan oleh kenyataan bahwa wilayah kota Malang merupakan sebuah kota kebudayaan. Unggah ungguh dalam berbahasa antarwarga masyarakat itu selalu tercermin dalam komunikasi dan interaksi anggota masyarakat sehari-hari.

Dalam wacana jual beli peralatan camping unggah-ungguh dalam  berbahasa ini pun juga tampak terlihat. Hal demikian misalnya, dengan sering digunakannya kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan derajat calon pembeli yang dilakukan oleh penjual, misalnya mas.  Kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan derajat calon pembeli itu biasanya dimunculkan untuk mengawali peristiwa tawar menawar. Kata-kata sapaan itu untuk membuka percakapan dan penggunaannya dirangkaikan dengan kata-kata yang maknanya mempersilahkan, misalnya mangga. Dengan demikian ekspresi yang digunakan untuk mengawali percakapan untuk jual beli peralatan camping itu biasanya adalah mangga mas.

Apabila percakapaan tawar menawar dalam jual beli itu diawali oleh calon pembeli, biasanya penggunaan kata-kata sapaan yang sifatnya meninggikan itu tidak tampak. Artinya bahwa dalam membuka percakapan, calon pembeli menggunakan kode bahasa yang sifatnya bisa dan wajar digunakan, seperti pira. Calon pembeli beranggapan bahwa status sosial dirinya lebih tinggi dari pada calon penjual.

Cuplikan percakapan tawar menawar berikut menunjukkan cukup dominannya penggunaan kode yang berwujud BJ itu dalam peristiwa tawar menawar jual beli peralatan camping.

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Monggo mas

Ono pembungkus tas mas?

Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud

Iyo, sing anti air

Sing tas karier apa yang day pac?

Tas ransel

Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink

Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas?

InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang)

Kode BA

Wilayah kota Malang sebagai pusat kegiatan budaya yang erat pula dengan pariwisata, menyebabkan sering terjadinya orang-orang asing yang biasa mengunakan BA dalam berkomunikasi. Dalam jual beli peralatan camping, penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris ini juga sering muncul sekalipun sangat terbatas. Di samping digunakan oleh pembeli yang datang dari luar negeri, ternyata pembeli maupun penjual dalam negeri juga sering menggunakan wajud kode ini dalam komunikasi. Cuplikan berikut dapat memperjelas uraian tersebut.

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Lihat-lihat mas

Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket)

Itu water frof lo mas

Kedap air ya mas?

Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air

Bisa di coba mas?

Bisa, coba aja gak pa pa

Ukurane sama yo mas?

Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama.

Lek sing iki piro?

Seratus dua puluh

Lek sing Tambora iku?

Seratus tiga puluh lima

Lebih mahal yo

Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas

Yo wis sing iki ae

Dari cuplikan itu dapat di lihat contoh kode yang berwujud BA, yakni bahasa Inggris. BA itu digunakan oleh penjual terhadap pembeli yang sudah saling mengetahui maksudnya. Biasanya, bahasa Inggris itu digunakan dengan tidak lengkap banyak penggalan-penggalan dan sering di campurkan dengan BI. Dalam tuturan itu misalnya itu watter frof lo mas dan ya ngak, beda size ya lain, hargane ya ngak sama. Tuturan watter frof (artinya kedap air) dan size (artinya ukuran) merupakan contoh penggunaan BA, dalam hal ini bahasa Inggris yang di campurkan dalam BI.

Pemerian Alih Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping

Appel (1976:79) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubahnya situasi. Berbeda dengan Ampel yang mengatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, maka Hymes (1975:103) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa tetapi dapat juga terjadi antara ragam-ragam atau gaya-gaya yang terdapat dalam satu bahasa.

Alih kode yang berwujud alih bahasa cukup banyak ditemukan dalam wacana jual beli peralatan camping. Alih kode yang berupa alih bahasa itu mencakup peralihan dari BI ke dalam BJ, BJ ke dalam BI dan BI ke dalam BA dalam hal ini bahasa Inggris. Berikut uraian dari masing-masing wujud alih kode itu satu demi satu.

Alih Kode dari BI ke dalam BJ

Alih kode yang berupa alih bahasa dari BI ke dalam BJ ditemukan degan cukup sering dalam wacana jual beli peralatan camping. Alih kode yang dimaksud sering dilakukan oleh penjual dan sering pula dilakukan oleh pembeli. Berikut cuplikan-cuplikan percakapan yang mengandung alih kode itu selengkapnya.

Cuplikan 1

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

lihat-lihat mas

Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket)

Itu water frof lo mas

Kedap air ya mas?

Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air

Bisa di coba mas?

Bisa, coba aja gak pa pa

Ukurane sama yo mas?

Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama.

Lek sing iki piro?

Seratus dua puluh

Lek sing Tambora iku?

Seratus tiga puluh lima

Lebih mahal yo

Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas

Yo wis sing iki ae

Dalam cuplikan itu dapat dilihat adanya alih kode yang dilakukan oleh pembeli. Semula ia mengguankan kode dalam BI dalam bertutur dengan penjual. Namun, akhirnya ia berusaha berubah menggunakan BJ dalam tingkat ngoko, yakni yang berbunyi lek sing iki piro? Yang maknanya adalah kalau yang ini berapa? Dengan demikian dapatlah dikatakan alih kode dalam cuplikan percakapaan itu adalah dari BI ke dalam BJ.

Cuplikan 2

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

:

:

:

:

:

:

:

Mari mas

Mas ada tas selempang?

Itu sebelah kiri

Gak ada pilihan lain?

Lagi kosong mas (pembeli lihat-lihat barang dagangan lain)

Monggo mas (sambil pergi)

yabs

Dari cuplikan percakapan itu dapatlah dilihat bahwa alih kode yang terjadi adalah dari BI ke dalam BJ. Alih kode itu dilakukan oleh pembeli di tengah-tengah proses bertutur dengan penjual. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa arah alih kode yang ada adalah dari BI ke dalam bj, yakni mangga mas yang maknanya mari mas.

Alih Kode dari BJ ke dalam BI

Alih kode yang berupa paralihan dari BJ ke dalam BI cukup banyak ditemukan dalam wacana jula beli peralatan camping di Ruko adventure Shop kota Malang. Dikatakan demikian karena kedua bahasa ini dikuasai dengan cukup baik oleh masyarakat tutur tersebut. Hal ini tampak pada cuplikan berikut.

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 2

Penjual

Pembeli 1

penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Monggo mas

Ono pembungkus tas mas?

Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud

Iyo, sing anti air

Sing tas karier apa yang day pac?

Tas ransel

Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink

Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas?

InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang)

Ada rainkot mas?

Itu di pojok sebelah kiri

Suwun mas, liat-liat sik

Monggo…

Dari cuplikan percakapan itu dapat dilihat bahwa alih kode yang ada dalah dari BJ ke dalam BI yang dilakukan oleh penjual. Dari sejak awal tutur penjual maupun pembeli menggunakan tingkat tutur Jawa ngoko. Namun, setelah datangnya pembeli kedua, penjual menggunakan bahasa Indonesia yakni  mari mas dan itu di pojok sebelah kiri. Alih kode ini dilakukan karena penjual beranggapan bahwa pembeli kedua belum tentu menguasai BJ dan untuk menghargainnya. Dengan demikian alih kode dalam cuplikan percakapan itu yakni dari BJ ke dalam BI.

Alih Kode dari BI ke dalam BA

Alih kode yang melibatkan BA ternyata juga dapat ditemukan dalam wacana jual beli sandang pada masnyarakat tutur bilingual di wilayah kota Malang. Bahasa asing yang cukup sering muncul dalam wacana ini adalah bahasa Inggris. Hal demikian disebabkan karena kenyataan bahasa Inggris memang cukup dikuasai dengan baik oleh warga masyarakat tutur ini. Kontak dengan para pendatang yang berkewarganegaraan asing dan hasil dari pendidikan memicu dikuasainya bahasa asing pada anggota masyarakat tutur ini. Berikut contoh alih kode yang berwujud alih bahasa dari BI ke dalam BA.

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Lihat-lihat mas

Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket)

Itu water frof lo mas

Kedap air ya mas?

Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air

Bisa di coba mas?

Bisa, coba aja gak pa pa

Ukurane sama yo mas?

Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama.

Lek sing iki piro?

Seratus dua puluh

Lek sing Tambora iku?

Seratus tiga puluh lima

Lebih mahal yo

Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas

Yo wis sing iki ae

Dari cuplikan itu dapat di lihat contoh alih kode dari BI ke dalam BA. BA itu digunakan oleh penjual terhadap pembeli yang sudah saling mengetahui maksudnya. Biasanya, bahasa Inggris itu digunakan dengan tidak lengkap banyak penggalan-penggalan dan sering di campurkan dengan BI. Dalam tuturan itu misalnya itu watter frof lo mas dan ya ngak, beda size ya lain, hargane ya ngak sama. Tuturan watter frof (artinya kedap air) dan size (artinya ukuran) merupakan contoh penggunaan BA, dalam hal ini terjadi alih kode dan campur kode dari BI ke dalam BA.

Sebab-sebab Alih Kode dalam Wacana Jual Beli Peralatan Camping

Kalau kita telusuri penyebab terjadinya alih kode itu, maka harus kita kembalikan kepada pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemukaan Fishman (1976:15) yaitu siapa yang berbicara degan bahasa apa, kepada siapa, kapan dan dengan tujuan apa. Dalam berbagai kepustakaan linguistik secara umum penyebab alih kode itu disebutkan antara lain: (1) pembicara atau penutur, (2) pendengar atau lawan tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal atau sebaliknya dan (5) perobahan topik pembicaraan.

Seorang pembicara atau penutur seringkali meakukan alih kode untuk mendapatkan keuntungan atau manfaat dari tindakkannya itu. Selanjutnya lawan bicara atau lawan tutur dapat menyebabkan tejadinya alih kode misalnya karena si penutur ingin mengimbangi kemampuan berbahasa si lawan tutur itu. Dalam hal ini biasanya kemampuan barbahasa si lawan tutur kurang atau agak kurang karena memang mungkin bahasa pertamanya. Kalau si lawan tutur itu berlatar belakang bahasa yang sama dengan penutur, maka alih kode yang terjadi hanya berupa peralihan varian, ragam, gaya atau register. Kalau si lawan tutur berlatar belakang bahasa yang tidak sama dengan si poenutur maka yang terjadi alih bahasa.

Kehadiran orang ketiga atau orang lain yang tidak berlatar belakang bahasa sama dengan bahasa yang sedang digunakan oleh penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Status orang ketiga dalam alih kode juga menentukan bahasa atau varian yang harus digunakan. Perubahan situasi bicara dapat menyebabkan terjadinya alih kode.

Di samping lima hal di atas yang secara umum lazim dikemukakan sebagai faktor terjadinya alih kode, sesungguhnya masih banyak faktor atau variabel lain yang dapat memyebabkan terjadinya peristiwa alih kode. Penyebab-penyebab ini ini biasanya sangat berkaitan dengan verbal repertoire yang tedapat dalam suatu masyarakat tutur serta bagaimana status sosial yang dikenakan oleh para pentur terhadap bahasa-bahasa atau ragam-ragam bahasa yang terdapat dalam masyarajat tutur itu.

Dalam wacana jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang ini, penulis temukan dua penyebab terjadinya alih kode. Penyebab ini yakni penutur memiliki latar belakang pengusaan bahasa yang sama dan perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, yang akan penulis paparkan dalam urain dibawah ini.

Penutur Memiliki Latar Belakang Pengusaan  Bahasa yang Sama

Dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang sering penutur melakukan campur kode dan alih kode dalama bertutur hal ini terjadi karena penutur (penjual maupun pembeli) memiliki latar belakang penguasaan bahasa yang sama. Seperti pada cuplikan berikut:

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Lihat-lihat mas

Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket)

Itu water frof lo mas

Kedap air ya mas?

Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air

Bisa di coba mas?

Bisa, coba aja gak pa pa

Ukurane sama yo mas?

Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama.

Lek sing iki piro?

Seratus dua puluh

Lek sing Tambora iku?

Seratus tiga puluh lima

Lebih mahal yo

Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas

Yo wis sing iki ae

Dari peristiwa tutur itu dapat dilihat bahwa penjual dan pembeli sama-sama menggunakan BI. Namun, sesekali pembeli menyisipkan kode bahasa Jawa, misalnya lek sing iki piro? (kalau ini berapa?). Dan penjul memahami kode itu serta bisa menanggapi dengan BJ pula. Dengan demikian dapat sebagai bukti bahwa dengan latar belakang penguasaan bahasa yang sama dapat menjadi penyebab alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping.

Perubahan Situasi dengan Hadirnya Orang Ketiga

Pada saat terjadi percakapan tawar menawar barang  antara penjual dan pembeli sering kali datang pula calon pembeli yang lain. Kedatangan calon pembeli itu sudah barang tentu harus ditanggapi oleh si penjual dengan menggunakan kode yang biasanya digunakan untuk mengawali percakapan tawar menawar barang. Biasanya kode itu menggunakan BI karena bahasa Indonesia bisa dipahami penutur pada umumnya. Dengan demikian si penjual secara tidak langsung melakukan alih kode yang barangkali pada awalnya menggunakan BJ. Berikut dapat digunakan sebagai contoh.

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 2

Penjual

Pembeli 1

penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Monggo mas

Ono pembungkus tas mas?

Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud

Iyo, sing anti air

Sing tas karier apa yang day pac?

Tas ransel

Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink

Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas?

InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang)

Ada rainkot mas?

Itu di pojok sebelah kiri

Suwun mas, liat-liat sik

Monggo…

Dari peristiwa itu tutur dapat dilihat bahwa kehadiran orang ketiga atau orang lain yang barangkali tidak berlatar belakang bahasa yang sama (dimaksud disini BJ) dengan bahasa yang sedang digunakan penutur dan lawan tutur dapat menyebabkan terjadinya alih kode. Sehingga perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga dapat menjadi penyebab campur kode dan alih kode dalam translaksi jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop Malang.

Dari pembicaraan tentang “Alih KOde yang Terjadi dalam Wacana JUal Beli Peralatan Camping” di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian bilingualisme akhirnya merupakan satu rentangan berjenjang mulai menguasa B1 (tentunya dengan baik karena bahasa ibunya sendiri) ditambah tahu sedikit akan B2, dilanjutan dengan penguasaan B2 yang berjenjang meningkat, sampai menguasai B2  itu sama baiknya dengan penguasaan B1. Kalau bilingualisme sudah sampai tahap ini berarti seorang penutur yang bilingual itu akan dapat menggunakan B1 dan B2 sama baiknya untuk fungsi dan situasi apa saja dan dimana saja. Namun, seperti sudah disebutkan di atas penutur bilingual yang seperti ini jarang ada yang ada dan biasa adalah para penutur bilingual yang sama-sama baik dalam dua bahasa, tetapi umumnya dalam ranah kebahasan yang berbeda.

PENUTUP

Bagian ini merupakan bagian penutup dari tulisan ini. Pada bagian ini akan disampaikan kesimpulan dan beberapa imlikasi kajian yang perlu mendapatkan perhatian dan tindak lanjut di masa mendatang, khususnya untuk kajian berikutnnya. Berikut kesimpulan dan implikasi-implikasi kajian selengkapnya.

Simpulan

Sejalan dengan rumuan masalah dan  tujuan penulisan yang diampaikan di bagian pendahuluan, maka sebagai kesimpulan dapatlah disampaiakan hal-hal berikut:

1)      kode yang digunakan oleh masyarakat tutur bilingual di kota Malang dalam jual beli peralatan camping di Ruko Adventure Shop adalah: (1) bahasa yang mencakup BJ dan bahasa non Jawa. Bahasa non Jawa di sini meliputi BI dan BA. BA yang paling sering ditemukan adalah bahasa Inggris, (2) tingkat tutur, yang meliputi tutur ngoko. Kode yang berwujud tingkat tutur ini tampak dengan sangat jelas khususnya jika bahasa yang dipakai adalah BJ.

2)      kode-kode yang digunakan dalam wacana jual beli peralatan camping di kota Malang ruko Adventur Shop dapat beralih dari kode yang satu ke kode yang lain. Misalnya dari BI ke dalam BJ atau sebaliknya, BI ke dadam Inggris atau sebaliknya. Peralihan itu ternyata tidak terjadi dengan tanpa arah melainkan dengan arah yang cukup jelas.

3)      alih kode dalam wacana jual beli peralatan camping  pada masyarakat tutur bilingual di kota Malang ruko Adventure Shop dilakukan dengan alasan-alasan yang sudah jelas dan juga tertentu. Dari kajian ini dapat diketahui bahwa alasan-alasan yang dimaksud meliputi (1) penutur memiliki latar belakang penguasaan bahasa yang sama, (2) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga.

Implikasi Kajian

Tidak disangkal bahwa kajian ini masih jauh bahkan teramat jauh dari sempurna. Ruang lingkup pembicaraan yang semula segaja digunakan untuk membatasi kajian ini bukan tidak mungkin justru mengkerdilkan jangkauan pembahasan. Wacana jual beli peralatan camping hanyalah merupakan sebagian yang teramat kecil dari wacana transaksional yang sebenarnya semula akan diangkat sebagai objek dalam kajian sosiolinguistik ini. Dengan perkatan lain sebenarnya kajian ini hanya bagian yang teramat kecil dari bagian yang sebenarnya bisa dilakukan lebih luas itu. Rekan rekan mahasiswa hkususnnya yang tertarik dengan bidang ilmu sosiolinguistik tentu ditantang menindaklanjuti kajian ini.

DAFTAR RUJUKAN

Appel, Rene,et all. 1976. Sosiolingustiek. Utrecht-Antwerpen: Het Spectrum.

Bloomfield, Leonard. 1933. Language. New York: Hold, Rinehard and Winston.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Fishman, JA. (Ed.). 1976. “The Relationshrip Between Micro and Macro Sosiolinguisc in The Study Who Speaks What Language To Whom and When”. dalam Pride dan Holmes (Ed.) 1976:15-32.

Hymes. 1974. Foundation Of Sosiolinguistics. Philadelphia: University Of Pensylvania Prees.

Mackey, W.P. 1970. “The Description Of Bilingualism” dalam J.A. Fishman (Ed.) 1970.

Rahardi, Kunjana. 2001. Sosiolinguistik, Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

Suwito. 1983. Awal Pengantar Sosiolinguistik, Teori dan Problema. Surakarta: Heary Offset.

LAMPIRAN

PERISTIWA TUTUR I

Pelaksanaan

Lokasi

Topik

:

:

:

Kamis, 11 Desember 2008

Ruko Adventure Shop

Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang

Tawar menawar jaket

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Lihat-lihat mas

Yabs, mari (pembeli memilih-milih jaket)

Itu water frof lo mas

Kedap air ya mas?

Yabs, jadi dalame anget terus luare anti air

Bisa di coba mas?

Bisa, coba aja gak pa pa

Ukurane sama yo mas?

Ya ngak, beda merk size yo lain, hargane yoi gak sama.

Lek sing iki piro?

Seratus dua puluh

Lek sing Tambora iku?

Seratus tiga puluh lima

Lebih mahal yo

Iya, tapi kwalitase gak jauh beda kok mas

Yo wis sing iki ae

PERISTIWA TUTUR II

Pelaksanaan

Lokasi

Topik

:

:

:

Kamis, 11 Desember 2008

Ruko Adventure Shop

Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang

Tawar menawar tas

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

:

:

:

:

:

:

:

Mari mas

Mas ada tas selempang?

Itu sebelah kiri

Gak ada pilihan lain?

Lagi kosong mas (pembeli lihat-lihat barang dagangan lain)

Monggo mas (sambil pergi)

yabs

PERISTIWA TUTUR III

Pelaksanaan

Lokasi

Topik

:

:

:

Minggu, 21 Desember 2008

Ruko Adventure Shop

Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang

Tawar menawar tas

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Tas ini kena berapa mas?

Dua ratus dua puluh ribu, itu ada tempat laptope juga lo mas

Mau liat yang ini

O… yang itu. Yang itu sama dengan yang ini.

Ada diskone ya mas?

Sepuluh persen untuk semua merk tas

Ya udah yang ini aja. Jadi kena berapa?

Seratus delapan puluh lima diskon sepuluh persen jadinya seratus enam puluh enam ribu, ya udah seratus enam puluh enam lima saja.

Ini mas uangnya

(memberikan kembaliannya)

kembali taga puluh lima ribu. Trim ya

PERISTIWA TUTUR IV

Pelaksanaan

Lokasi

Topik

:

:

:

Minggu, 21 Desember 2008

Ruko Adventure Shop

Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang

Tawar menawar tempat HP

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

Penjual

Pembeli

:

:

:

:

:

:

:

Boleh lihat ini mas?

Oh tempat HP. Boleh mari, ini bisa untuk dua HP sekaligus mas.

Kena berapa mas?

Dua puluh lima ribu

Boleh lihat yang sampingnya mas?

Iya silahkan, cuman beda merk aja. Kalau ini merk eiger

Ya udah yang ini saja

PERISTIWA TUTUR V

Pelaksanaan

Lokasi

Topik

:

:

:

Minggu, 21  Desember 2008

Ruko Adventure Shop

Jl. Raya Sumbersari 87 C Malang

Tawar menawar cover tas

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 1

Penjual

Pembeli 2

Penjual

Pembeli 1

penjual

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

:

Monggo mas

Ono pembungkus tas mas?

Pembungkus tas? O… cover to sing dimaksud

Iyo, sing anti air

Sing tas karier apa yang day pac?

Tas ransel

Sing selawe liter lagi kosong mas, kari warna pink

Wahaha, yo gak lucu koyo cewek ae. Kapan ono anek maneh mas?

InsyaAllah Minggu ngarep, soale Minggu iki lagi blonjo (ada pembeli lain yang datang)

Ada rainkot mas?

Itu di pojok sebelah kiri

Suwun mas, liat-liat sik

Monggo…

Digg this post Bookmark to delicious Stumble the post Add to your technorati favourite Subscribes to this post
« Pemerolehan Bahasa Anak Usia Tiga Tahun dalam Lingkungan Keluarga
Model Pendidikan Berpikir Kritis-Kreatif untuk Siswa Sekolah Dasar »
Copyright © 2011. infodiknas.com. Kontak info Rulam Ahmadi - rulamahmadi@infodiknas.com - 081333052032 - 03417699996 (flexi)-
Themes Designed by: Elegant WP Themes | Supplied by Web Hosting | ReEdit for Infodiknas.com by Tricks-Collections.Com